Hari Minggu, 11 juni 2012, kemarin saya habiskan waktu jalan-jalan menikmati keindahan alam, tepatnya di Kintamani. Bukan ikutan tour seperti paket tour kintamani, Tapi dengan bersepeda atau cycling. Biasa kami chit-chat dulu, saling mengenal buat yang belum kenal. Hidangan teh manis dan pisang goreng, bisa mengobati rasa lapar, atau sekedar pengganti sarapan. Lalu kami diantar ke start point di kawasan dekat Kintamani. Sebelum memulai petualangan dengan sepeda ini, kami melakukan sedikit warming up untuk menghindari cedera nanti. Peserta kurang lebih 20an orang, jadi akan lumayan seru nih Banyak cewek cantik dan cowok gantengnya juga hehehe.. Beberapa saat kemudian setelah warming up, kami pun memilih sepeda masing-masing dan semua sepeda sudah disetting ke downhill mode alias setingan buat turunan. Ya memang benar saja, hampir 70an persen trek bersepeda ini adalah turunan, sisanya kebanyakan trek datar dan sedikit tanjakan. Jadi buat yang ngga biasa bersepeda seperti saya pun ngerasa fun abiss.. Sepanjang perjalanan kita akan menikmati hijaunya alam. Kebun jeruk, persawahan, perumahan penduduk, pura tradisional yang kaya mitos akan bisa dinikmati di perjalanan ini. Lama perjalanan kurang lebih3 jam. Akan cukup menantang buat kawan yang senang akan olahraga adventure. Seru man! Habis itu, sudah capek-capek ria, kami menikmati shower di finish point dan juga makan siang. Wah lahapnya minta ampun karena baru saja tubuh ini membakar kalori yang banyak. Kalau badan-badan masih merasa pegal, jangan lupa sorenya mencoba pijat reflexology. Lengkap dan mantab, kan?
Sabtu, 23 Juni 2012
0
Cycling
Minggu, 08 April 2012
0
Artinya :
Luluh hilangnya si harta benda itu semasih kita di rumah, sudah
berpisahan tidak dapat dibawa jika kita mati… Yang cinta kasih, sanak
keluarga berpisahannya sampai di kuburan dan pulangnya sama-sama
menangis… Segala perbuatan buruk dan baik itulah yang akan menuntun
memberi petunjuk jalan di mana sepantasnya akan tinggal… Demikianlah
disebutkan, kita jadi manusia, kebetulan masih hidup dan sepatutnyalah
menjalankan dharma laksana
Karma Phala sebagai landasan hidup umat Hindu
Karma Phala berasal dari 2 (dua) kata, yaitu Karma yang artinya segala perbuatan, kerja/gerak dan Phala yang artinya hasil
Jadi Karma Phala artinya segala perbuatan akan memperoleh hasil, hasil dari segala perbuatan.
Makna Karma Phala
Karma (kerja/gerak) meninggalkan Karma Wasana (bekas-bekas gerak) yang kelak timbul menjadi Karma Phala yaitu hasil dari perbuatan yang akan menentukan baik dan buruk penjelmaan kita di masa yang akan datang.
Hal ini dapat kita ketahui dari adanya kelahiran orang pandai, bodoh,
tampan/cantik, jelek, normal, cacat, kaya, miskin dan sebagainya, itu
adalah disebabkan oleh adanya Karma yang baik (Ḉubhakarma) dan Karma yang tidak baik/buruk (Aḉubhakarma) yang telah dilakukannya pada penjelmaan terdahulu. Kita percaya, bahwa segala perbuatan (Karma) akan memperoleh hasil (Phala/Phahala)
dan tiap hasil yang kita peroleh tergantung dari baik dan buruk dari
perbuatan yang kita perbuat. Oleh karena itu, jika ingin menjadi
manusia yang baik dan sempurna, berbuatlah baik sekarang juga, agar sekala (nyata) dan niskala (tidak nyata) serta kemudian menjadi manusia utama, sehingga Sang Hyang Atma (Rokh) memperoleh tempat yang baik. Dalam buku Sarasamuscaya Bab XI,12) disebutkan :
| Kang ḉubha karma panenta sakna ring aḉubha kharma phalaning ring wong |
| Artinya : Perbuatan yang baik itu adalah alat untuk menebus perbuatan yang tidak baik (dosa), yang patut dilaksanakan oleh setiap orang. |
Jadi disini dikatakan, bahwa perbuatan
yang tidak baik (dosa) hanya dapat ditebus dengan perbuatan yang baik,
karena tidaklah ada suatu alasan bagi manusia untuk menebus dosanya
dengan uang (materi). Kalau toh ini mungkin ini hanya berlaku dalam
alam dunia (sekala/duniawi/kemanusiaan), ilustrasi ini dapat diambil
dari Wayang Cenk-Blonk ”Gatokaca Anggugah” tentang Cerita Atman Pranda yang ngotot supaya mendapatkan Sorga (Percakapan
Tuwalen/Penakawan vs Pak Sokir/Petani miskin yang memperoleh Sorga), di
alam sekala kesalahan/dosa kita bisa beli dengan menyogok sehingga kita
terbebas dari jeratan hukum, tetapi alam niskala tetap akan menuntut
kita berdosa dan tetap akan memperoleh pahala/hasil yang dinamakan
neraka.
Selanjutnya penjelasan mengenai Karma Phala kita jumpai melalui cerita
dalam kitab Maha Brata, Ramayana, Arjuna Wiwaha, Niti Castra dan kakawin
lainnya :
Arjuna Wiwaha, Wirama Dasar : Aswalalita, Kadang Wirama :
Rajani/Mandamalon (17)
|
o
|
o
|
o
|
o
|
-
|
o
|
-
|
o
|
o
|
o
|
-
|
o
|
o
|
-
|
o
|
o
|
ō
|
| sya | pa, | ka | ri | tan | te | mung | a | yu, | ma | se | dha | na, | sar | wa | a | yu |
| mi | ya | ta | ka | tem | wa | ning | a | la, | ma | se | dha | na, | sar | wa | a | la |
| tu | wa | sa | li | sih | ma | nang | sa | ya, | pu | re | kre | ta, | ta | pa | ti | nut |
| sa | ke | ha | re | pan, | ke | si | dan, | ma | ka | dar | sa | na, | Pan | dhu | su | ta |
Artinya :
- Siapa yang masih tertinggal belum menemui kebahagiaan, diantara mereka yang telah mengabdikan diri pada kebaikan…,
- Oleh karena itu tentu akan memperoleh kesengsaraan jika berbuat yang salah…,
- Pikiran yang ragu-ragu akan keadaan si Karma Phala, yang baiklah dilaksanakan…,
- Segala yang terangan-angan pasti tercapai sebagai halnya Sang Arjuna.
Niti Castra, Wirama Dasar : Wirat, Kadang Wirama : Kalelengan (22)
|
o
|
-
|
o
|
o
|
o
|
-
|
o
|
-
|
o
|
o
|
o
|
-
|
o
|
o
|
o
|
o
|
o
|
-
|
o
|
o
|
o
|
ō
|
| su | rud, | ni | ka | na | ngar | tha | ring | gre | ha | hi | lang | nya | tan | ha | na | wi | na | wa | yan | pe | jah |
| i | kang | ma | mi | dra | swa | wan | dhu | su | ru | di | pe | ma | sa | ra, | nu | mu | lih | pa | da | na | ngis |
| ga | we, | a | la | ha | jong | ma | nun | tun, | a | ngi | ring, | ma | nu | dha | ke | nu | lah, | te | ka | te | kan |
| ka | li | nga | ni | ka, | ring | da | di | wa | ngi | se | deng | u | rip | a | ngu | la | ha | dhar | ma | sdha | na |
Pembagian Karma Phala
Kenapa ada kelahiran orang pandai,
bodoh, cantik, jelek, normal, cacat, kaya, miskin, anak kita
bandel/susah diatur/menyusahkan, orang yang kuat/tekun
sembahyang/tunggang-tungging selalu/masih saja dirundung
penderitaan/kesengsaraan, membuka bisnis tidak pernah berhasil-berhasil,
sakit tidak pernah sembuh-sembuh dan seterusnya ? Itu semua karena
hukum Karma Phala yang datangnya apakah cepat, sedang atau lambat? Untuk
itu, berikut adalah pembagian Karma Phala, yaitu antara lain:
a. Pararabda Karma Phala
Adalah hasil/pahala perbuatan dari masa
kehidupan sekarang ini yang habis (tanpa ada sisanya) dinikmati pada
masa kehidupan sekarang ini juga atau Karma Phala cepat/cicih.
b. Sancita Karma Phala
Adalah hasil/pahala perbuatan dari masa
kehidupan yang lampau/dahulu dan baru dinikmati pada masa hidup
sekarang ini atau Karma Phala sedang.
c. Kriyamana Karma Phala
Adalah hasil/pahala perbuatan dari masa
kehidupan sekarang ini dan baru akan dinikmati kehidupan penjelmaan
yang akan datang atau Karma Phala lambat.
d. Karma Phala Sentana
Adalah hasil/pahala dari perbuatan yang diterima oleh sentana/keturunan akibat perbuatan orang tua (leluhur).
Hukum Karma Phala Sebagai Landasan Sikap Bathin Umat Hindu
Sukses tidaknya perjuangan hidup seorang di dalam segala aspeknya itu adalah sangat tergantung sekali pada disiplin bathin yang dipegangnya,
terutama disiplin dan konskwen terhadap pantangan segala apa yang
disebut Adharma atau serba keburukan, kecurangan, kekerasan dan
kekasaran.
Setiap gerak dari pada hidup ini, baik
dalam pemikiran dan perencanaan, kata-kata dan pelaksanaan (Tri Kaya
Parisudha, Sad Ripu, Sad Atatayi, Sapta Timira, Tri Premana) bila
dibarengi oleh sikap bathin Adharma, walaupun itu masih bersifat
perencanaan saja, ia sudah pasti akan membawa suatu akibat buruk,
diminta atau tidak, cepat atau lambat, dirasa atau tidak dirasa, pada
saatnya akan muncul dengan sendirinya, seperti ucapan:
”riastu ri angen-angen maphala juga ika”
Artinya: kendatipun masih tarap pemikiran, berbuah juga ia.
Itulah salah satu yang membedakan Agama
Hindu dengan agama lainnya, juga membedakan dengan hukum Pidana. Hukum
Pidana baru bisa kena hukuman apabila sudah ada bukti, saksi dan
kesaksian dengan melewati proses hukum yang panjang (melibatkan aparat
Polri, Kejaksaan dan Pengadilan). Tiada sebab tanpa akibat dan tiada
akibat tanpa sebab atau tiada Karma tanpa Phahala dan tiada Phahala
tanpa Karma. Baik buruknya suatu akibat (Phahala/hasil) sangat
tergantung pada baik buruknya sebab (Karma/perbuatan) itu sendiri.
Jalan dan Karma yang berlandaskan Dharma
pasti menuju Sorga (kebahagiaan) dan Moksa (kebebasan abadi) dan
sebaliknya setiap Jalan dan Karma yang berlandaskan Adharma adalah
menuju Neraka (kesengsaraan dan penderitaan).
Semua kegiatan kita dalam berpikir, berkata dan berbuat harus berlandaskan wiweka
(kemampuan untuk membeda-bedakan, menimbang-nimbang dan akhirnya
memilih antara yang baik dan buruk , salah dan benar dan sebagainya).
Kebebasan abadi berupa Moksa dapat
dicapai dengan tidak mengikatkan diri pada pamrih dari suatu perbuatan
(Karma). Dengan ini bukan berarti bahwa orang mesti tiada berbuat
apa-apa lantas nongkrong duduk termangu-mangu atau bermalas-malasan
hanya duduk dan berdoa mengharap rejeki dan kebahagian jatuh dari
langit, karena tiada pamerih (mengikatkan diri) pada hasil Karma, namun
ia harus selalu berbuat dan berjuang menegakkan Dharma.
Hal ini jelas terlihat dalam Sloka pada Bhagawad Gita Bab III, sloka 4 dan 5 sebagai berikut :
na karmaṇām anārabhān
naiṣkarmyaṁ puruṣo ’śnute,
na ca saṁnyasanād eva
siddhiṁ samadigacchati. (Bhagawad Gita III : 4)
Artinya :
Bukan dengan jalan tiada bekerja …
orang mencapai kebebasan dari ikatan perbuatan,
Juga dengan tiada hanya melepaskan diri dari kerja …
orang akan mencapai kesempurnaan hidup.
na hi kaścit kṣaṇam api
jātu, tiṣṭhaty akarm-kṛt,
kāryate hy avaśah karm
sarwaḥ prakṛti-jair guṇaiḥ. (Bhagawad Gita III : 5)
Artinya :
Sebab tiada seorangpun akan dapat tinggal diam …
walau hanya sekejap mata juga tanpa melakukan pekerjaan,
Tiap-tiap orang selalu digerakkan …
oleh dorongan alamnya sendiri dengan tiada berdaya.
Label:
hindu,
karma phala
Lokasi:
Sanur, Denpasar 80228, Indonesia
Selasa, 28 Februari 2012
0
Warga Bali Di Berlin Bangun Pura
Umat Hindu di Berlin, Jerman berhasil membangun tempat suci yang diberi
nama Pura Tri Hita Karana yang penggunaannya diresmikan tahun 2003.
Tempat suci tersebut dibangun di Taman Bali Marzhan Berlin Jerman, tepatnya Erholung Spark Marzhan, Wakil Ketua Nyama Braya Bali (NBB) Berlin Ketut Warsini, didampingi Sekretaris Ida Bagus Puja Erawan, SH ketika bertemu Bupati Buleleng Putu Bagiada di Singaraja, Selasa.
Tempat suci tersebut dibangun di Taman Bali Marzhan Berlin Jerman, tepatnya Erholung Spark Marzhan, Wakil Ketua Nyama Braya Bali (NBB) Berlin Ketut Warsini, didampingi Sekretaris Ida Bagus Puja Erawan, SH ketika bertemu Bupati Buleleng Putu Bagiada di Singaraja, Selasa.
Langganan:
Postingan (Atom)
